Senin, 12 November 2012

AGAMA DAN KEMAJEMUKAN MASYARAKAT


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk yang terdiri atas berbagai macam suku-bangsa, agama, dan golongan secara keseluruhan membentuk kebudayaan nasional Indonesia. Kemajemukan dalam masyarakat Indonesia merupakan kekayaan budaya nasional uang membanggakan. Tetapi dalam kemajemukan seringkali tumbuh potensi-potensi konflik, karena faktor-faktor kondisional dan struktural yang bersifat aktual dalam perkembangan masyarakat.
Di antara salah satu kenyataan yang tumbuh menyertai suasana integrasi dalam kemajemukan masyarakat Indonesia, ialah munculnya konflik antar pemeluk agama. Hal ini disebabkan karena faktor yang watak yang melekat pada agama-agama besar yang bersifat opensif, dan kemajemukan masyarakat indonesia sendiri, yang keduanya memberi peluang timbulnya benturan-benturan kepentingan yang bersifat kompleks. Seringkali faktor-faktor pemicu konflik tersebut bersifat destruktif bagi kehidupan, sehingga selalu dicari berbagai upaya peredam konflik, antara lain melalui jalur peraturan yang membatasi cara penyebaran agama, dengan asumsi bahwa masalah ini seringkali menjadi faktor pemicu konflik yang terbilang kuat.
Umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi tegaknya negara dan bangsa serta terpeliharanya integrasi nasional, termasuk dalam membangun kerukunan umat beragama. Tetapi menjadi kenyataan pula, bahwa tidak jarang terjadi ketegangan sosial antara umat Islam dengan non-Islam, terutama karena persoalan penyebaran agama yang bertemu dengan faktor lainnya dalam kehidupan masyarakat.

B.     Metode Penelitian
Metode yang relevan untuk meneliti “Agama dan Kemajemukan Masyarakat” adalah dengan metode penelitian lapangan/observasi. Dengan metode penelitian lapangan, kita memperoleh informasi yang empirik dan aktual mengenai berbagai gejala dan kecenderungan dalam kehidupan beragama. Termasuk berkaitan dengan konflik antarumat beragama dalam kehidupan nyata masyarakat. Dengan demikian, kita dapat lebih memasuki pembahasan konkret empirik dalam mengkaji beragama dalam masyarakat Indonesia.
Yang tak kalah penting ialah melalui penelitian lapangan, dapat dirumuskan kebijakan dan strategi ke depan berupa perencanaan strategis tentang pola kehidupan beragama dalam kemajemukan, khususnya tentang konflik antarumat beragama yang terjadi di Indonesia.


BAB II
AGAMA DAN KEMAJEMUKAN MASYARAKAT
A.    Agama dalam Kehidupam Masyarakat
Agama menurut Anselm von Feuerbach sebagaimana dikutip oleh Rahmat (1986: 36), dalam bentuk apapun dia muncul, tetapi merupakan kebutuhan ideal umat manusia. Karena itu, peranan agama sangat menentukan dalam setiap kehidupan, dan tanpa agama manusia tidak akan hidup sempurna. Hal itu berkaitan secara mendasar dalam hakikat kehidupan manusia, bahwa ada sesuatu yang sangat alami pada diri manusia yang disebut naluri atau fitrah untuk beragama (Madjid, 1992: xvii).
Peranan menjadi sangat penting ketika agama telah dianut oleh kelompok-kelompok sosial manusia, yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup manusia yang kompleks dalam masyarakat. Pada perkembangan yang demikian itulah agama menjadi berkaitan langsung dengan kebudayaan dalam masyarakat, sehingga agama dan masyarakat serta kebudayaan mempunyai hubungan timbal balik yang saling berpengaruh (Suparlan, 1992: 13).
Dalam keadaan dimana pengaruh ajaran-ajaran agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan, maka sistem-sistem dari kebudayaan tersebut terwujud sebagai simbol-simbol suci yang maknya bersumber pada ajaran-ajaran agama yang menjadi kerangka acuannya. Secara langsung atau tidak langsung, etos yang menjadi pedoman eksistensi dan kegiatan berbagai pranata yang ada dalam masyarakat (keluarga, ekonomi, politik, pendidikan, dsb) dipengaruhi, digerakkan, dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai uang sumbernya ada pada nilai agama yang dianutnya, dan terwujud dalam kegiatan-kegiatan warga masyarakat sebagai tindakan dan karya yang diselimuti oleh simbol suci.
Persentuhan agama dalam struktur sosial, bukan saja telah melahirkan beragam corak keberagaman dalam berbagai aliran beragama, tetapi juga membuat persentuhan saling terkait antara kepentingan yang berdimensi keagamaan dengan kepentingan-kepentingan aktual masyarakat. Ketika agama mengaktualisasi dalam kehidupan para pemeluknya, maka keberagaman itu berada pada level masyarakat, sehingga agama kemudian terintegrasi dalam sistem nilai sosial budaya, sistem sosial, dan wujud kebudayaan fisik yang kemudian bersentuhan melalui proses sosial dengan elemen-elemen sosial lainnya. Sehingga keberagaman saling terkait antara dimensi normatif faham dan keyakinan dengan dimensi kehidupan aktual, baik pada level individual maupun kolektif dalam dinamika kehidupan masyarakat.
B.     Agama dan Problem Kemajemukan
Dalam masyarakat senantiasa terdapat pola-pola hubungan sosial antara lain diwujudkan dalam proses interaksi sosial seperti integrasi dan konflik sosial. Dalam kehidupan masyarakat dinamis, timbulnya konflik-konflik sosial merupakan gejala yang wajar, lebih-lebih dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial dan kebudayaan.
Menurut perspektif fungsionalisme Simmel, bahwa konflik dalam suatu masyarakat terkait dengan berbagai proses yang mempersatukan dalam kehidupan sosial, dan bukan sekedar lawan dari persatuan. Tetapi, meskipun konflik merupakan gejala alamiah dan tidak dapat dihindarkan dari kehidupan masyarakat, konflik tidaklah harus berkepanjangan (Johnson, 1986: 269).
a.       Konflik Antarumat beragama
Karena agama dalam realitas kehidupan memerlukan kehidupan pemeluknya dapat dipandang sebagai bagian terpenting dari kebudayaan mereka, maka ketika muncul konflik dalam hubungan antarpemeluk agama perlu dilihat dalam keseluruhan struktur kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Hal itu kerena agama saling terkait dengan faham dan keyakinan para pemeluknya tentang kebenaran mutlak “doktrin agama” masing-masing merupakan bagian terdalam dari kehidupan manusia juga terkait dengan faktor-faktor sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. (Abdurrahman, dalam Soemardi, 1982: 142)
Oleh sebab itu, jika terjadi konflik antar pemeluk agama, maka muatan konflik itu seringkali bersifat kompleks. Hal itu terjadi karena agama itu sendiri bagi para pemeluknya memiliki dua dimensi. Pertama, agama digunakan oleh para pemeluknya sebagai pandangan hidup yang menjelaskan keberadaan manusia di dunia, sehingga agama merupakan satu-satunya bagian dari kebudayaan yang menjelaskan arah dan tujuan hidup manusia. Kedua, agama tidak hanya mengatur manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur manusia dengan manusia lainnya, yang berarti bahwa agama juga terkait erat dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat seperti kekerabatan, kepemimpinan, politik, ekonomi, dan sebagainya. Sehingga agama bersifat operasional dalam kehidupan sosial manusia.
b.      Konflik Intern Umat Beragama
Dalam hubungan intern umat beragama yang memiliki prinsip keyakinan yang sama, konflik sering terjadi tidak karena prinsip keyakinan, melainkan banyak dipengaruhi oleh selain perbedaan faham agama atau penafsiran atas ajaran agama, juga dipengaruhi oleh perbedaan status sosial para pemeluk agama dan kepentingan-kepentingan duniawi, seperti kepentingan dalam memperebutkan jumlah umat, kepemimpinan, kekuasaan, politik, aset ekonomi. Sehingga konflik yang disebabkan oleh faktor-faktor sosiologis tersebut kemudian bertumpang tindih dengan perbedaan faham seputar masalah-masalah “khilafiyah” yang seringkali bukan prinsip namun dianggap sebagai prinsip dan memperoleh legitimasi dari persoalan prinsip keagamaan.
Di lingkungan umat Islam misalnya, antarkelompok sebutlah Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU), di masa lalu sering terjadi konflik kendatipun tidak menunjukkan ke arah disintegrasi. Pada saat ini apabila dideskripsikan, bahwa konflik itu tampak dalam bentuk persaingan, atau ditemukan tidak terjadi konflik tetapi pada saat yang sama tidak pula tercipta integrasi.
Contoh data konflik antara Muhammadiyah dan NU adalah sebagai berikut:
Tatkala Muhammadiyah menghembuskan semangat pembaruan ke Indonesia, yang pertama kali terusik ketenangannya adalah kalangan ulama pesantren. Keterusikan ini bukan semata karena kekhawatiran kehilangan privilege. Tapi, jika sampai terjadi perubahan mendanak, ulama mengkhawatirkan terjadinya "goncangan" pemahaman di kalangan umat Islam. Maklum saja, sesuai dengan riwayat penyebarannya yang lebih mengandalkan akulturasi ketimbang konfrontasi, ajaran Islam yang dipertahankan para ulama adalah ajaran Islam yang moderat, toleran terhadap tradisi, dan masih mengakui relativisme internal. Toleransi ajaran ulama pesantren tampak pada kesediaan mereka membiarkan praktik ritual yang bernuansa Hindu-Budha, seperti peringatan hari ke-7, ke-40, dan ke-100 kematian seseorang.
Semangat yang menggebu kalangan pembaru serta kekukuhan ulama pesantren dalam mempertahankan tradisi kerap berada dalam posisi yang berhadap-hadapan. Ini menjadi awal konflik antara kaum "modernis" dan kaum "tradisionalis". Puncaknya, pada 1927, kalangan ulama pesantren Jawa mendirikan organisasi Nahdatul Ulama (NU). Terlepas dari argumentasi formal yang dikemukakan pendiri NU, para sarjana yang mengamati dinamika sejarah Islam Indonesia, menganggap kehadiran NU sebagai reaksi atas gerakan pembaruan, khususnya yang dilancarkan Muhammadiyah.

Kasus lain dapat ditemukan dalam kelompok agama-agama lain di Indonesia, dengan kecenderungan yang bervariasi. Di kalangan gereja Batak Protestan misalnya, terjadi hal yang sama. Konflik antar gereja protestan terjadi karena adanya perbedaan dalam struktur para penganutnya yang disebabkan oleh pendidikan, kekayaan, dan kedudukan sosial di masyarakat setempat.

c.       Faktor-faktor konflik umat beragama
Di antara faktor-faktor pemicu konflik adalah sebagai berikut:
1.      Stratifikasi Sosial
Pelapisan sosial kehidupan dalam masyarakat seperti perbedaan tingkat/status sosial dan ekonomi antarpemeluk agama maupun para pemimpinnya, yang antara lain dapat melahirkan kecemburuan sosial. Faktor ini cukup kuat dapat mempengaruhi faktor lainnya, karena bersifat kompleks dan struktural.
2.      Faham/Penafsiran Agama.
Perbedaan pemahaman terhadap ajaran agama yang antara lain melahirkan sikap fanatisme berlebihan terhadap madzhab keagamaan yang dianut oleh setiap kelompok agama di lingkungan intern agamayang sama, baik pada level umat maupun pemimpinnya.
3.      Mobilitas kegaiatan dakwah/umat
Yakni usaha-usaha mempertahankan atau memperluas jumlah jamaah yang menjadi pengikut paham maupun gerakan dakwah yang dilakukan oleh setiap kelompok agama di lingkungan umat beragama yang sama, termasuk dalam melakukan mobilisasi sosial kelompok terutama para elit pemimpinnya.
4.      Keyakinan Agama
Yakin kepercayaan yang mendasar dan dianggap mutlak yang mencakup komitmen beragama, yang bersifat sakral dan fundamental bagi setiap pemeluk agama.

KESIMPULAN
Apapun konsep agama menurut para ahli, bagi para pemeluknya agama merupakan suatu yang luhur dan diyakini dapat membawa keselamatan hidup di dunia dan di alam setelah mati (akhirat), yang dapat membawa dirinya ke jalan Tuhan. Jadi, agama bagi para pemeluknya merupakan kebutuhan yang seringkali menentukan dalam kehidupannya, lebih dari pada yang lainnya.
Jika kita memahami letak agama dalam kehidupan manusia, maka dapat dipahami mengapa agama bagi para pemeluknya seringkali menjadi sesuatu yang sangat sensitif, seperti melahirkan sikap fanatik, agama menjadi ideologi, dan sebagainya, sehingga dapat menimbulkan berbagai konflik dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah realitas sosiologis dari kehidupan beragama para pemeluknya, dan itu bukanlah pseudo-religion.
Karena itu, jika terjadi konflik dalam hubungan antar pemeluk agama, maka muatan konflik itu seringkali bersifat kompleks. Konflik tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait dengan konteks keseluruhan kehidupan masyarakat. Sehingga konflik tersebut selain menyentuh dimensi keyakinan akan doktrin ajaran agama yang dipeluknya, sekaligus berkaitan dengan kepentingan sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.




DAFTAR PUSTAKA
Nashir, Haedar. 1999. Agama dan Krisis Manusia Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar